google translate

KONFLIK TANPA BATAS DAN SOLUSINYA DI TANAH PAPUA PDF Cetak E-mail
Opini Publik
Senin, 08 April 2013 08:26

Oleh: Santon Tekege

Maraknya berbagai pendekatan pembangunan dan kesejahteraan khususnya melalui Otonomi khusus (Otsus) dan Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) tidak mengakhiri berbagai konflik di Tanah Papua. Indonesia untuk mensukseskan pembangunan dan kesejahteraan melalui pola pendekatan keamanan militer (tentara Indonesia, Polisi, dan kaki tangan pemerintah lainnya) di Papua.

Pola berbagai pendekatan Indonesia di Papua membuat semakin banyak konflik di tanah Papua. Konflik-konflik itu terjadi tanpa batas dan tanpa mencari keadilan demi perdamaian di Papua. Semua konflik ini terjadi karena mempertahankan pendapatnya, tidak mempertemukan konsep, dan tidak mencari solusi alternatif yang baik secara manusiawi. Di sini dialog menjadi solusi yang sangat manusiawi demi menciptakan Papua Tanah Damai yang dilandasi oleh semangat cinta kasih.

Konflik di Papua
Kita mencermati adanya berbagai konflik di Papua mulai dari konflik dalam kehidupan keluarga, konflik kelompok suku, konflik di tempat kerja, sampai konflik negara melalui pendekatan militer pada warganya di Papua. Ada juga yang merasa bahwa konflik utama adalah masalah ekonomi atau masalah tidak terpenuhinya kebutuhan lain, termasuk aspirasi serta harapan mereka ke depan. Dengan demikian konflik adalah teman hidup setiap warga di Papua (Bdk. Tim SKP Jayapura, Membangun Budaya Damai dan Rekonsiliasi : Dasar Menangani Konflik di Papua, (Jayapura : SKP Keuskupan Jayapura, 2006).
Setiap konflik yang terjadi di tanah ini terasa sangat sulit untuk dipecahkan karena akar dari setiap persoalan tersebut belum ditemukan. Hal ini akhirnya hanya membuat konflik semakin berkembang menjadi lebih besar. Memang harus diakui bahwa telah ada berbagai usaha untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut, tetapi yang terjadi adalah sebuah solusi yang bermasalah. Untuk mengatasi setiap masalah tersebut dengan tujuan menemukan akar dari setiap permasalahan,  maka kehadiran Dialog Jakarta Papua sebagai sarana untuk mewujudkan suatu perdamaian. Pentingnya Dialog dalam mengatasi masalah di Papua dewasa ini karena jalan kekerasan tidak berhasil menyelesaikan konflik Papua. Kenyataan sejarah di Papua memperlihatkan secara jelas bahwa hingga kini masalah Papua belum dituntaskan secara komprehensif dan menyeluruh, kendati telah diupayakan penyelesaiannya melalui berbagai cara, termasuk dengan menerapkan cara kekerasan oleh kedua belah pihak yang terlibat dalam konflik (bdk. Neles Tebay, Dialog Jakarta Papua: Sebuah Perspektif Papua, Jayapura: SKP Keuskupan Jayapura, 2009). Di sini ditegaskan bahwa jadilah negara yang baik bagi warganya agar warganya merasa disapa dan diterima sebagai anggota warganya di Indonesia. Metode yang baik agar merasa disapa dan diterima sebagai warganya adalah jalan damai melalui duduk bersama untuk membicarakan persoalan dan konflik yang terjadi selama ini. Dalam kaitannya dengan permasalahan dan konflik, pendekatan kemanusiaan jalan damai hadir sebagai sarana yang dilandasi oleh semangat cinta kasih.

Mempertahankan Pendapatnya
Indonesia dan Papua saling memandang sebagai musuh yang tak terpadamkan selama ini. Konflik demi konflik, kekerasan demi kekerasan dan pendekatan demi pendekatan selalu saja terjadi antara Indonesia dan Papua. Mereka saling memandang bukan lagi sebagai negaranya atau bukan lagi sebagai warganya.  Justru karena adanya beda pendapat “NKRI Harga Mati” dan “Papua Merdeka Harga Mati”. Pihak keamanan militer dan orang asli Papua menjadi korban     karena hendak mempertahankan pendapatnya masing-masing. Indonesia justru karena mempertahankan “NKRI Harga Mati”, sehingga kebanyakan orang Papua menjadi korban amukan aparat Negara di Papua. Diberlakukan hukum yang legal dan cacat hukum di Papua. Demi mempertahankan keutuhan Indonesia, pihak aparat keamanan pun menjadi korban di Papua, misalnya kasus penembakan yang menewaskan 8 anggota TNI dan 4 warga sipil di Sinak dan Tingginambut di Puncak Jaya sejak 21 Februari 2013. Kemudian penyisiran selanjutnya dua orang wanita berhasil diperkosa oleh 15 orang anggota TNI 753 Nabire di Tingginambut Puncak Jaya sejak 23 Februari 2013. Sementara orang Papua mempertahankan “Papua Merdeka Harga Mati”, maka banyak orang Papua menjadi korban disiksa, misalnya 7 warga mengalami penyiksaan oleh polisi di Depapre Sentani sejak 15 Februari 2013. Demikian hal sama dialami seorang pelajar SMA YPK bernama Wolter Wakum disiksa hingga tewas di Biak sejak 9 Maret 2013. Tanpa berhenti pihak gabungan militer TNI dan Polisi serta Brimob berhasil menembak seorang warga sipil Stefanus Yeimo (35) di Paniai dan kemudian 4 Mahasiswa ditembak oleh gabungan keamanan polisi dan Brimob di Kampus Uswim Nabire sejak 22 Maret 2013.
Pada umumnya kita mencermati bahwa di Papua banyak kasus dalam tiga bulan 2013 tetapi penulis tidak bisa menuliskan di dalam artikel ini. Hanya karena kasus-kasus itu, warganya merasa tidak aman dan damai di Papua. Warga Indonesia di Papua merasa hidupnya pun terancam, tidak tenang hidupnya karena banyak kasus di Papua. Warga Papua sedang menanti hidup yang baik dan damai tanpa kekerasan dan konflik. Warga Papua menanti hidup yang damai dan baik tetapi dikendalikan oleh negara melalui pendekatan gabungan militer dan kaki tangan lainnya sehingga warganya tidak merasakan keamanan dan kedamaian di negeri ini.
Dalam hal ini Indonesia bagaikan negara totalitas yang dibangun hanya berpusat pada egoistik. Pemikiran egois mestinya merombak karena pemikiran filosofis model ini selalu bertolak dari aku dan kembali kepada aku. Untuk merombak pemikiran  yang berpusat pada ego sebagaimana negara Indonesia memakainya pada warganya mesti dirubah menjadi keprihatinan dan kepedulian pada orang lain sebagai saudara dan sahabat demi menjalin komunikasi yang baik, duduk membicarakan persoalan yang dialaminya, dan mencari solusi yang baik jika terjadi masalah dan konflik antar pribadi dengan pribadi lain. Melalui perjumpaan kita dengan orang lain, totalitas yang telah kita bangun akhirnya dirombak. Suasana perjumpaan ini terjadi melalui “face to face” dalam ruang dialog.
Di sini perjumpaan dengan orang lain dapat memberikan kontribusi yang baik demi masa depan warganya, maka kita  diantar untuk melihat suasana yang lain, khususnya di Papua saat ini. Situasi  Papua dengan berbagai macam kompleksitas masalah yang terjadi tentunya sangat relevan bagi kita untuk kembali memberikan perhatian kepada warganya khususnya melalui Dialog Jakarta Papua yang dilandasi oleh semangat cinta kasih.

Mempertemukan Berbagai Konsep
Dialog sebagai sebuah pendekatan kemanusiaan yang paling jitu. Dialog dapat mempertemukan berbagai asipirasi dari Indonesia dan Papua. Dialog menjadi suatu bentuk penyamaan konsep dan pikiran yang berbeda. Dialog mempertemukan perbedaan dari segala suku bangsa dan daerah. Jika pertemuan antar manusia, maka dibutuhkan dialog, entah dialog melalui bahasa tanda maupun bahasa verbal, atau komunikasi langsung. Karena itu, butuhkan semangat saling percaya dalam komunikasi tanpa saling curigai-mencurigai,misalnya antara Indonesia dan Papua. Dialog sudah mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak di luar negeri untuk memberikan suatu penguatan dan kepercayaan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Indonesia bahwa dialog itu amat penting. Dan ini kepentingannya bukan untuk Papua saja, tetapi untuk memperlihatkan wajah Indonesia di publik Internasional bahwa Indonesia merupakan negara yang demokrasi, karena Indonesia terkenal di Asia Tenggara dalam perannya sebagai mediasi dalam masalah konflik, misalnya Thailand, Malaysia, dan beberapa negara lain di Asia. Karena itu, dibutuhkan keseragaman antara batik Papua dan batik Indonesia untuk mencari jalan perdamaian melalui dialog warga Indonesia.
Eva Kusuma Sundari (anggota Komisi III DPR RI) berkata bahwa upaya pendekatan kesejahteraan dan pembangunan melalui dana Otsus tidak meredam konflik. Bahkan ditengarai malahan mengintensifkan praktik korupsi para elite Papua. Selanjutnya penyelesaian politik melalui dialog merupakan satu-satunya pilihan bagi penghentian kekerasan berkepanjangan di Papua “Tidak ada pilihan lain”. Hambatan utama terciptanya dialog Papua justru di Jakarta. Masih banyak anasir-anasir pejabat tinggi, terutama pihak militer atau polisi yang bersikukuh dengan pola pikir Orde baru berupa pendekatan keamanan walau terbukti telah gagal. Resistensi yang kuat juga diduga karena keterlibatan aparat di bisnis-bisnis tambang dan perusahan kelapa sawit di Papua sebagaimana dilaporkan masyarakat adat setempat dan ditegaskan oleh asosiasi LSM Papua (Baca Kompas edisi, 1 Juni 2012). Amien Rais menilai kasus kekerasan yang terjadi di Papua merupakan peringatan bagi pemerintah Indonesia untuk segera mencarikan jalan keluar menyelesaikan permasalahan di Papua. Menurutnya perkembangan yang terjadi di Papua sudah amat mengkhawatirkan. Patriotisme sudah kehilangan arah, Papua sudah jauh perkembangannya, terjadi baku tembak antar anak bangsa, eksploitasi freeport, tapi pemerintah pusat seolah tidak paham masalahnya (bdk TribunNews Jakarta edisi 27 Febaruari 2013). Selanjutnya beliau menambahkan bahwa harus segera dicarikan solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan di Papua. Solusi bukanlah dengan menggunakan jalan kekerasan melalui kekuatan militer tetapi lewat jalur dialog dengan pihak terkait.

Mengakhiri Konflik di Papua
Dialog hadir sebagai sarana yang dilandasi oleh semnagat cinta kasih sehingga hendak memberikan solusi mengakhiri konflik dan permasalahan yang terjadi antara Indonesia dan Papua selama ini. Dialog mengantar Indonesia dan Papua demi masa depan yang lebih baik dan damai. Dengan semangat cinta kasih yang mendasari bagi semua suku bangsa dan daerah khususnya Indonesia dan Papua yang terlibat dalam dialog, maka perbedaan pendapat tidak lagi menjadi halangan dan hambatan untuk berdialog demi menciptakan suasana kedamaian di Papua. Untuk sampai pada dasar ini maka kriteria utama yang harus dipegang adalah memandang yang lain dari wajah ke wajah. Lewat perjumpaan wajah ke wajah setiap orang diantar untuk dapat memandang yang lain sama seperti dirinya sendiri terlepas dari segala macam instrumen yang ada padanya. Hal ini  dirasa sangat perlu karena setiap pihak yang dilibatkan dalam dialog datang dengan sikap, harapan, aspirasi, dan perjuangan yang berbeda-beda. Berbagai macam perbedaan inilah yang sering kali membuat sebuah dialog tidak pernah menemukan akar dari setiap permasalahan yang terjadi di Papua. Dengan dialog akan mendatangkan hasil yang baik serta dapat diterima oleh semua orang melalui kesepakatan bersama sebagai warga negara Indonesia.
Pada prinsipnya, Otsus merupakan solusi, namun solusi yang bermasalah. Agar kembali pada hakikatnya sebagai solusi, maka masalah-masalah termasuk konflik dan kekerasan yang ada perlu diselesaikan terlebih dahulu. Otsus sebagai buah cinta pemerintah Indonesia dan pemerintah daerah perlu memperhatikan tujuannya yakni Orang Asli Papua. Kemendesakan perhatian semua pihak terutama kedua pihak (Indonesia-Papua) tersebut membuat persoalan Otsus perlu diperbaharui dalam konteks kini. Mestinya membangun suatu kepercayaan bukan saling curiga-mencurigai antara Indonesia dan Papua, justru karena kecurigaan membuat kedua belah pihak tidak mampu untuk bekerja sama selama ini. Ketakpercayaan orang Papua akan kinerja Otsus selama ini, membuat orang Papua untuk tetap mempertahankan bahwa Otsus telah dikembalikan lewat Dewan Adat Papua (DAP) sejak 12 Agustus 2005.
Namun kita berpikir bahwa kepercayaan mampu melahirkan keterbukaan. Dengan keterbukaan antara Indonesia dan Papua dapat memampukan warga Indonesia untuk mesti membicarakan dan membuka diri dari persoalan-persoalan mendasar yang ada di Papua. Aspirasi Indonesia atau disebut keinginan Indonesia mesti dipadukan dengan kehendak warganya di Papua. Jika demikian, hasil pembicaraan mesti saling mendengarkan bukan mempertahankan pendapat atau pembicaraanya sendiri sesuai kehendak masing-masing. Bukan pula untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan satu pihak tetapi sikap saling mendengarkan dan menghargai pendapat kedua pihak satu sama lain serta menerimakan hasil kesepakatan bersama dalam dialog agar terjadinya suatu dunia damai dan adil yang dilandasi oleh cinta kasih bagi semua orang. Dialog yang demikian memunculkan sikap saling menerimakan satu sama lain sebagai manusia. Dengan demikian tercipta suatu kerinduan dan harapan akan kedamaian yang mendambahkan peningkatan kepercayaan sehingga keterbukaan semakin besar dirasakan oleh Indonesia dan Papua. Kemudian dialog semakin mendalam serta penerimaan satu sama lain yang lebih jujur untuk mengkahiri konflik demi menciptakan perdamaian di tanah Papua.


Penulis: Mahasiswa Pasca Sarjana Pada STFT-Fajar Timur, Abepura-PAPUA

KONFLIK TANPA BATAS DAN SOLUSINYA DI TANAH PAPUA