google translate

Institut DIAN/Interfidei Menggelar Seminar Papua Tanah Damai di Bandung dan Surabaya PDF Cetak E-mail
Kegiatan JDP
Selasa, 22 September 2015 15:16

Institut DIAN/Interfidei telah dua kali melaksanakan seminar tentang Papua Tanah Damai, di Bandung dan Surabaya. Tema, “Papua Tanah Damai : Antara Harapan dan Kenyataan”. Buku "100 Orang Indonesia Angkat Pena Demi Dialog Papua", menjadi referensi utama bagi narasumber, dari Seminar ini, adalah, bagaimana Dialog Jakarta-Papua benar-benar dilakukan, sebagai "cara" non-kekerasan untuk menjadikan Papua sebagai Tanah Damai dan Indonesia menjadi bangsa yang adil dan beradab.

Di Bandung, berlangsung pada Senin, 4 Mei 2015, pukul 09.00-12.30, bertempat di ruang Audio-Visual (Advis) FISIP Universitas Katolik Parahyangan, Jl. Ciumbuleuit 94, Bandung, dalam kerjasama dengan FISIP UNPAR dan JAKATARUB. Acara di Bandung dibuka langsung oleh dekan FISIP UNPAR (sekarang menjadi Rektor UNPAR), Prof. Dr. Mangadar Situmorang. Sebagai narasumber adalah, Wilson (Jaringan Damai Papua, Jakarta), yang menjelaskan soal, bagaimana membangun dialog untuk Papua Tanah Damai? Dr. Pius S. Kartasasmita (Dosen FISIP UNPAR), yang tekun pada ilmu Administrasi Publik, membicarakan soal “kegagalan OTSUS”. Dr. Beni Sukadis (Lesperssi, Jakarta), berbicara tentang Reformasi Sektor Keamanan dan Perdamaian di Papua; Elga J. Sarapung (Direktur Institut DIAN/Interfidei, Yogyakarta) berbicara tentang peran agama-agama dalam sejarah munculnya komitmen bersama : “Papua Tanah Damai”. Seluruh proses dipimpin oleh Dr. Nyoman Sudira (FISIP UNPAR), sebagai moderator.

Di Surabaya, berlangsung pada Jumat, 12 Juni 2015, pukul 14.00-17.00 WIB, bertempat di auditorium Fakultas Hukum, UNAIR, dalam kerjasama dengan SEPAHAM INDONESIA dan FH-UNAIR, HOTLINE SURABAYA. Narasumbernya: Dr. Adriana Elizabeth (LIPI, Jakarta), berbicara tentang apa yang sudah dan sedang dicapai oleh Jaringan Damai Papua (JDP), sekaligus memberi apresiasi terhadap apa yang sudah dan sedang dilakukan pemerintahan Jokowi. JDP tetap berharap keseriusan Pemerintahan Jokowi untuk melakukan langkah-langkah konstruktif. Sementara, Dr. Herlambang Perdana Wiratraman (FH-UNAIR, Surabaya), mengedepankan bagaimana “membaca Papua dalam konteks Indonesia dari kacamata media”. Kendala yang paling besar adalah, peran para pemilik media yang juga sebagai kekuatan politik. Narasumber ketiga, Esthi Susanti, MA (HOTLINE Surabaya, Surabaya), secara kritis melihat bahwa aspek gender belum serius dimasukan dalam konsep dialog, sebab itu, konflik di Papua tidak akan menghasilkan sesuatu yang kreatif-produktif. Esthi juga menekankan pentingnya proses trauma healing bagi masyarakat Papua. Proses diskusi di Surabaya dipimpin oleh Elga Sarapung (Interfidei, Yogyakarta).

Institut DIAN/Interfidei Menggelar Seminar Papua Tanah Damai di  Bandung dan Surabaya