google translate

Tanpa Provokator, Papua Tak Berpotensi Konflik PDF Cetak E-mail
Jumat, 13 Mei 2016 15:55

JAKARTA (SK) - Sosiolog dari Uni­ver­sitas Indonesia Thamrin Amal Tomagola  ber­pendapat, Papua tidak berpotensi konflik an­tar­penganut agama jika tidak ada provokator.

 

"Kon­flik agama bisa terjadi jika ada pihak yang mau mengadu domba, kalau tidak ada, Pa­pua tidak berpotensi konflik," kata Thamrin saat dialog "Meningkatkan Peran Media Na­sional Menuju Rekonsiliasi Papua" di Jakarta.

 

Dia mengatakan, secara demografis mayoritas penduduk Papua beragama Kristen, namun dengan arus transmigrasi yang besar maka kesenjangan jumlah penduduk beragama Kristen dengan Islam semakin mengecil.Menurut dia, dalam pembangunan di Papua akan terjadi pergumulan keras antara adat, agama, negara serta bisnis.

 

"Pada akhirnya adat dan agama akan dilumat negara, maka akan terjadi pergumulan sangat keras antara aspek-aspek tersebut. Tanah adat akan diambil alih oleh bisnis dengan legalisasi negara.

 

Hasilnya akan terbentuk Papua baru yang kita tidak tahu bentuknya seperti apa, hal itu baru dapat dilihat setidaknya dalam tiga generasi atau 75 tahun ke depan," kata doa.

 

Dia cukup prihatin terhadap pemerintah yang membuka peluang besar untuk investor asing dalam membangun Papua. "Semua izin dipermudah, ini sama saja dengan menjual Papua," kata dia.

 

Dia juga mengatakan seharusnya pembangunan infrastruktur, sumber daya manusia dan lainnya di Papua dapat berjalan jika tidak ada pelanggaran HAM dan tanpa kekerasan. (vas/ant)

 

Sumber: http://m.suarakarya.id/2016/05/12/tanpa-provokator-papua-tak-berpotensi-konflik.html

Tanpa Provokator, Papua Tak Berpotensi Konflik