google translate

Sarapung: Stop Kekerasan, Mari Dialog! PDF Cetak E-mail
Senin, 16 Desember 2013 10:33

Yogyakarta, 12/12 (Jubi) —Direktur Institut Dialog Antariman di Indonesia atau Institute for Interfaith Dialogue in Indonesia (Institut DIAN/Interfidei), Elga Joan Sarapung, mengatakan, harus dan segara ada solusi atas masalah Papua. Wacana dialog Jakarta-Papua yang digagas Jaringan Damai Papua (JDP) setidaknya akan mengurasi tumpukan persoalan di Tanah Papua.

 

“Betapa peliknya permasalahan di Papua. Nah, stop kekerasan dan mari dialog,” ujar Elga kepada tabloidjubi.com usai diskusi buku “100 Orang Indonesia Angkat Pena Demi Papua” di Theatrical Room Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (12/12) siang.

 

Gagasan mengenai dialog tersebut, kata dia, diwacanakan Pater Neles Tebay dan Muridan Widjojo dari JDP. Baik dalam berbagai pertemuan maupun buku-buku mengenai dialog Jakarta-Papua yang ditulis beberapa waktu lalu, sudah sangat jelas dan seharusnya ada respon untuk memulainya.

 

Diakui, tulisan dari “100 orang Indonesia” menunjukkan satu harapan bersama untuk terjadinya perubahan mendasar di Tanah Papua. Harapan agar penyelesaian konflik Papua dengan cara dialog, bukan pendekatan keamanan atau tindakan represif sebagaimana diterapkan selama ini.

 

Harapan sama juga diungkapkan Daoed Joesoef dalam papernya “Bergerak maju ke arah dan demi perubahan”. Ia berpendapat, pengalaman kelam selama puluhan tahun menjadi bayang-bayang bagi masa depan rakyat Papua. Sementara di pulau emas itu serambi terdepan Indonesia dalam pergulatan perkembangan ekonomi dunia yang makin cepat dan intensif bergeser dari kawasan Atlantik ke kawasan Pasifik.

 

Ia khawatir, kue dunia di Papua hanya menjadi incaran pihak lain. Karena itu, pemerintah pounya tanggung jawab untuk mengatasi persoalan dan mengobati luka batin orang Papua.

 

“Saya sunggu belum pernah melihat satu karya tulis kolektif di Indonesia, mengenai satu subyek tertentu, yang melibatkan sampai 100 pemikir dari seluruh tanah air. Buku ini saya kira satu prestasi intelektual yang patut dihargai,” Daoed Joesoef mengomentari buku yang telah di-launching 24 Oktober lalu.

 

“Setelah membacanya lebih daripada sekali dengan berbekal nalar dan rasa, saya berkesimpulan tulisan-tulisan ini bersifat Augustinian. Sebab, semua penulis dengan caranya masing-masing, sama-sama risau tentang kemungkinan sejenis barbarisasi yang bergerak lambat tetapi pasti, berasal dari unsur-unsur tertentu dunia perpolitikan (polities) yang berada di antara rejim-rejim berengsek dewasa ini dan realisasi dari tujuan kebiadabannya,” tulis Daoed Joesoef dalam paper yang dibuat untuk kebutuhan diskusi buku tersebut.

 

Cara-cara penanganan dan penyelesaian persoalan Papua, yaitu stop kekerasan, mulailah dengan dialog. Dialog yang beberapa kali dikatakan oleh Presiden SBY sebagai dialog dengan hati. Hanya pertanyaannya, mengapa kesadaran tersebut belum berwujud dalam praksis yang konkrit?. Mengapa masih memakai pendekatan keamanan berbasis kekerasan?. Mengapa Pemerintah dan aparat keamanan masih takut pada keadilan dan kebenaran?. Mengapa belum mulai merancang bersama perwujudan dialog Jakarta-Papua secara sungguh-sungguh?.

 

Para pihak, pemerintah maupun orang Papua, sulit bertemu (dialog) seperti dikatakan Oktovianus Pekei, aktivis JDP maupun Direktur Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Prof. Dr. Mohtar Mas’oed, punya kecurigaan yang berlebihan. Masing-masing mempertahankan konsepnya dengan slogan “NKRI Harga Mati” dan “Papua Harga Mati”, tanpa menyadari bagaimana solusinya untuk menyelesaikan tumpukan persoalan dan konflik di Tanah Papua.

 

Salah satu peserta diskusi menuturkan, jika tak pernah ada upaya, misalnya dari pemerintah, menangani persoalan untuk mengakhiri konflik berkepanjangan, sampai kapan orang Papua bisa hidup dengan tenang tanpa ada tetesan darah lagi?.

 

“Apakah dengan kirim militer banyak-banyak ke Papua akan menyelesaikan persoalan? Saya kira tidak. Justru tambah masalah dan dari sisi kemanusiaan, kita tidak terima itu. Mereka saudara kita, orang Papua adalah bagian dari kita, warga negara ini,” tuturnya.

 

Peserta lain sempat mengkhawatirkan, dialog akan berujung lepasnya Papua dari NKRI. Apalagi belakangan, masalah Papua makin mendunia. Pandangan demikian, kata Okto, kerapkali terdengar di publik. JDP tak pernah tawarkan solusi atau tujuan dari dialog. JDP hanya mencari dan menawarkan formula terbaik membicarakan masalah Papua dengan para pihak.

 

Tantangan bagi Indonesia , Merespon hingga benar-benar melaksanakan dialog, dinilai satu langkah maju pemerintah. Ini tantangan bagi Indonesia sebagai negara demokrasi yang menjunjung tinggi keadilan, kebenaran dan perdamaian.

 

Sementara itu, buku “100 Orang Indonesia Angkat Pena Demi Papua” tak hanya didiskusikan di beberapa daerah di Indonesia. Rencananya, buku tersebut akan dibahas di luar negeri. Diharapkan, dengan begitu semakin banyak orang Indonesia yang ada di Indonesia dan di luar negeri, bahkan dunia internasional ikut bersama-sama mewujudkan terlaksananya dialog Jakarta-Papua. (Jubi/Markus You)

 

Sumber:http://tabloidjubi.com/2013/12/13/sarapung-stop-kekerasan-mari-dialog/

Sarapung: Stop Kekerasan, Mari Dialog!